History

Ibunda, Cerita Hujan di Ramadhan

Sudah dua hari ini cuaca di Lhokseumawe mendung berawan menandakan 10 Ramadhan ini menjadi sedikit dingin, setelah cuaca panas menghampiri dari awal ramadhan tahun 2016 ini. Hari ini, pukul 15.00 wib hujan turun dengan derasnya. Suasana alam sekitar rasanya menjadi hijau kembali. Alhamdulillah perkiraan cuaca 27’C.

Ingin rasanya mengulang beberapa momen beberapa tahun silam saat ibunda masih ada di rumah ini. Bila hujan deras maka kami siap-siap untuk melihat permukaan air di halaman atau hanya sekedar duduk meratapi betapa bersyukurnya kami dengan keadaan ekonomi pada saat itu. Iya, saat dimana kami merasakan betapa susahnya menjalani kehidupan tanpa kehadiran seorang ayah di rumah dan dengan keadaan ekonomi saat itu sungguh lemah. Bila bisa makan satu hari 2 kali maka kami sudah bisa bersyukur, tanpa meminta uang jajan sekolah lagi atau uang jajan di sore hari.

Uang jajan ke sekolah tidak akan kami minta kepada ibu, karena di hari itu kami berpuasa walaupun jarak ke sekolah 4 km dengan jalan kaki. Ya, kami memaklumi keadaan ibu menyimpan uang dari kakak dan abangku untuk mereka juga di masa yang akan datang. Ibu hanya mengambil sedikit simpanan dari kakak dan abang dari mereka, dan selebihnya ibu mencari uang dengan mencuci pakaian tetangga dan memelihara 15 ekor bebek. Bila bebek itu bertelur maka akan dibuat menjadi telur asin dan kami membawa ke beberapa kedai di dekat rumah. Uangnya akan kami terima paling lama satu minggu setelahnya. Dan itu cukup untuk keperluan kami berbuka puasa. Ya, kami berbuka dengan air teh hangat, nasi dan lauk pauk apa adanya, bahkan kadang dengan mie instan. Rasanya aku rindu dengan suasana itu, suasana seorang ibu yang tetap membuat kami agar tetap puasa dan berbuka. Tapi kami tidak akan merasakan hal itu lagi, karena ibu pergi setelah puasa terakhirnya di tahun 2008.

16 Juni 2016, hampir 8 tahun sudah kami hidup tanpa seorang ibu. Dan kami tumbuh menjadi dewasa dengan beragam aktivitas yang berbeda dari 7 bersaudara. Dengan rezeki yang berkecupan, kami saling berbagi dan saling menguatkan satu sama lain, apalagi di bulan Ramadhan seperti ini. Bila kami berkomunikasi maka pasti sedikitnya ada membicarakan tentang ibu, ya kami rindu dengannya. Bila ada ibu, maka ibu akan begini begitu…….

Hujan di Ramadhan ini menjadi saksi betapa kami rindu suasana Ramadhan bersamanya, suasana yang tidak akan kami alami lagi. Al-Fatihah buat Ibunda Tersayang….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s