Ragam

Somay, Makanan Yang Populer

Bermula saat saya hendak mengantar teman saya pulang kerumah, namun dia meminta saya untuk singgah ke lapangan Hiraq yang berada tepat di depan Islamic Centre kota Lhokseumawe. Saya kira ada apa, eh ternyata dia ingin membeli somay yang merupakan makanan yang sangat digemari oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Somay atau lebih dikenal dengan nama bakso cilok dalam bahasa Aceh ini sangat digemari oleh berbagai kalangan. Entah apa alasannya mengapa makanan ini sangat digemari oleh semua kalangan mungkin karena rasanya, murah meriah, serta banyaknya penjual somay yang menjual makanan ini. Entahlah saya kurang tahu tentang rasanya.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar kelas 3, saya tidak suka. Sehingga saya tidak pernah memakannya hingga tahun 2010.  Di akhir tahun 2010 saya pernah memakan makanan yang sangat terkenal di Lhokseumawe ini. Itupun hanya 2 buah somay saja. Alasan saya saat itu makan makanan ini adalah karena di paksa untuk memakannya oleh kakak kandung saya. Awalnya setiap pulang kuliah, sahabat saya Syauqi sering membeli somay, somay Pak De. Karena terkenalnya somay Pak De, hampir semua remaja dan orang dewasa tahu somay Pak De ini menjual somay, yaitu di Jalan Darussalam. Pada suatu waktu sahabat saya Syauqi membeli somay ini, lalu mengantar saya ke rumah. Karena kakak saya sedang makan somay, diapun menanyakan dimana membeli somay tersebut. “Ini somay Pak De kak yang di jalan Darussalam itu” ujar Syauqi sambil makan somay tersebut. Dan akhirnya kakak saya pun memberi amanat kepada saya dengan mengatakan “Dek, meunyoe na ka jak bak somay Pak De ka bloe keu lon lhee ribe beuh, entek lon ganto peng jih” . Dengan bahasa Indonesia artinya “Dek, kalau ada ke tempat somay Pak De beli untuk aku ya tiga ribu saja, nanti aku ganti uangnya.

Sering kali saya membeli somay untuk kakak saya di somay Pak De ini, membuat dia penasaran. Mengapa selama saya membeli somay untuknya mengapa saya tidak membeli untuk diri saya juga atau hanyaa sekadar meminta untuk merasakan somay miliknya yang dititipkan kepada saya. Dan saya pun mengatakan “lon han ek somay nyan, dari glah lhee SD sampe jinoe han ek lon somay” (saya tidak mau somay, dari kelas tiga SD sampai sekarang saya tidak mau somay). Namun, karena kakak saya penasaran menyuruh saya untuk mencoba somay satu saja, tapi tidak pernah saya coba untuk memakannya. Namun, pada suatu hari saya pun akhirnya merasakan somay juga dengan 2 buah somay. Setelah memakannya kakak saya pun bertanya “ Kiban mangat, hana muntahkan kah? Hana matee kan pajoh somay nyoe? Pasti kah trep-trep hawa keu lom” (gimana enak, nggak muntahkan? Nggak matikan makan somay ini? Pasti lama-lama ingin lagi). Namun, hal itu tidak terbukti hingga sekarang, saya tidak suka somay. Apa alasannya entahlah, yang pasti saya tidak suka itu saja.

Masih teringat di benak saya ketika saya dan teman-teman berada di dalam suatu kegiatan music di Sanggar Cut meutia. Di dalam ruangan multi purpose yaitu sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruangan latihan tarian, music, paduan suara, rapat anggota sanggar hingga sebagai tempat menyimpan alat music. Seringkali teman-teman mengumpulkan uang untuk membeli somay Pak De, mulai dari yang 2 ribu rupiah hingga 5 ribu rupiah, dari yang dengan saos saja hingga sampai yang menambahkan cabe rawit. Contohnya teman saya Fajar Siddiq Nasution dan Yuni Herawati. Mereka makan somay harus pedas, kurang afdhol bila makan somay tidak pedas katanya. Berbeda dengan teman-teman lainnya saya sendiri justru tidak ingin makan somay, sehingga apabila mereka menawarkan kepada saya “bang, mau somay?”. Saya pun menjawab “ enggak dek, nggak suka abang”. Dengan jawaban yang sama sehingga akhirnya mereka tahu saya tidak suka somay. Siapapun penjualnya, maupun seenak apapun rasanya saya tidak suka.

Saya sempat bertanya kepada sahabat saya Fajar “Apa sih enaknya makan somay? Rasanya itu bagaimana sih? Apa kamu tidak merasa ketagihan makan somay? Dalam satu  minggu berapa kali makan somay? Satu kali beli berapa harganya dan isinya kira-kira berapa? ”.  Dia pun menjawab “enak, seperti kita makan bakso, untuk rasanya memang enak bersahabat dengan lidah, kalau untuk ketagihan iya kali ya, dalam satu minggu 2 hingga 3 kali makan somay, untuk satu kali beli 3 hingga 5 ribu rupiah dan isinya itu kira-kira 30  buah. Dan untuk beli somay itu tidak mengenal tempat yang penting enak dan murah”. Wih, mendengar jawaban dari sahabat yang satu ini terbesit dalam benak saya banyak juga keuntungan yang didapatkan oleh tukang penjual somay setiap harinya.

Namun dibalik rasanya yang enak sedikit menyimpan tanda tanya bagi saya, seberapa higieniskah somay yang dijual oleh para pedagang saat ini dan apakah ada pengaruh terhadap kesehatan orang yang memakannya. Untuk saat ini saya tidak bisa menjawabnya karena untuk hal-hal tersebut dibutuhkan jawaban oleh seorang ahli yang bergerak dalam bidang kesehatan. Namun, apapun makanan yang kita makan saat ini hendaknya selalu memperhatikan manfaat dari makanan yang kita makan sehingga kesehatan tubuh dapat terjaga dengan baik, sehingga membuat aktivitas sehari-hari tidak terganggu. Jadi andalah penentu pilihan yang baik untuk tubuh anda

Advertisements

6 thoughts on “Somay, Makanan Yang Populer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s