History · Ragam

Kenangan Lama (Begins From Zero) part I

Masih membekas di ingatan bagaimana semua yang telah terjadi dalam hidup ini dimulai dengan suatu angka atau nilai nol besar alias tidak ada apa-apa. Di tahun 2004 menjadi keinginan yang indah bagi kami semua anak-anak Sanggar Cut Meutia tempat kami bernaung dalam suatu wadah kesenian di kabupaten Aceh Utara, walaupun kami berasal dari Kota Lhokseumawe. Sanggar Cut Meutia sendiri terletak dalam Pendopo Bupati Aceh Utara di Kota Lhokseumawe hingga sekarang ini. Dalam sanggar ini kami terbagi menjadi dua kategori yaitu para penari dan musisi, serta Marching Band. Untuk kategori nari dan musisi sendiri sudah sangat senior sejak tahun 1989. Sedangkan Marching Band sendiri berdiri pada tahun 2002.

Tahun 2004, saat itu saya masih duduk di kelas 1 SMU. Walaupun dalam masa konflik Aceh saya tetap ingin mengenal dengan dunia kemiliteran dengan cara bergabung dengan Pramuka agar mengenal PBB. Maklum saja untuk baris-berbaris sendiri sangat kurang bagi saya saat itu karena sejak tahun  1998 hingga kelas 3 SMP upacara senin pagi sangat jarang dilakukan bahkan bisa dihitung dengan jari setahun hanya beberapa kali sahaja. Itupun saat peringatan 17 Agustus atau yang berhubungan dengan dunia TNI atau POLRI. Maka sejak masuk SMA saya ikut kegiatan Pramuka karena keadaan mulai sedikit berubah situasi di kota Lhokseumawe tidak terlalu menakutkan seperti daerah-daerah lain yang ada di Aceh. Di Pramuka sendiri banyak pelajaran yang dapat saya petik mulai dari baris-berbaris, kedisiplinan, berfikir cepat, setia kawan, mengetahui sandi-sandi, dan lain-lain. Semua itu tanpa pengetahuan apapun alias nol sebelum ikut bergabung dengan  Pramuka. Di Pramuka sendiri saya bertahan hingga 1 tahun 6 bulan hingga saya benar-benar memutuskan untuk bergabung dengan Sanggar Cut Meutia dalam dunia Marching Band.

Masih di tahun yang sama, saat itu di bulan Februari akhir bulan saya mulai ikut Marching Banda Sanggar cut Meutia, hanya bermodalkan Pbb yang saya pelajari saat Pramuka, walaupun itu sangat jauh dari yang diharapkan. Karena cara baris-berbaris Pramuka dan Marching band memiliki perbedaan yang mendasar, Bila Pramuka benar-benar ala militer, namun pada Marching Band baris-berbaris sendiri memiliki seni. Itulah alasan mengapa saya jatuh hati kepada dunia Marching Band. Di lain pihak pada saat itu Pramuka dan Marching band saya ikuti ke dua-duanya dengan hambatan yang berbeda-beda. Mulai dari menyita waktu, pikiran, biaya serta teman-teman yang berbeda-beda. Hingga akhirnya saya memilih Marching band sebagai kegiatan yang benar-benar saya sukai di akhir tahun 2004 sebelum tsunami melanda Aceh.

Dalam dunia Marching Band sendiri saya dan teman-teman benar-benar baru bukan seperti saat ini dunia musik yang memiliki informasi sana-sini. Dengan keadaan Aceh yang kurang kondusif membuat Marching Band kurang di senangi oleh sebahagian orang karena hanya membuang uang kas daerah. Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan oleh Pemkab Aceh Utara untuk setiap tahunnya demi membeli alat-lat yang begitu mahal dan berkelas. mulai dari alat tiup terompet, perkusi, flag, hingga baju untuk latihan dan penampilan semua itu untuk memajukan daerah Aceh agar tidak tertinggal dari daerah lain.

##

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s