Life

Kisahku Bersama Kamera (Part One)

Kamera dengan berbagai bayangan membayangi imajinasiku dalam setiap kehidupanku. Rasanya ada yang berbeda tanpa kehadiran sebuah kamera maupun fitur kamera dalam berbagai bentuk selama masa remaja yang aku lalui.

Pengenalan tentang sebuah kamera bermula dari masa konflik yang terjadi di Aceh. Saat itu sering ku melihat beberapa orang yang membawa sebuah kamera foto maupun kamera video yang memiliki ukuran yang besar. Maklum saja aku tinggal di Lhokseumawe dan tepat berada di kota jadi pemandangan ini tidak asing bagi warga yang berada di sekitar seputaran kota Lhokseumawe untuk melihat wartawan meliput kejadian yang terjadi pada masa konflik itu.

Setidaknya setiap orang yang memiliki serta memegang kamera itu adalah orang yang hebat, dan itulah yang ada di pikiran pada anak usia 11 tahun sepertiku.

Tahun 2000 adalah tahunnya millenium. Tahun yang penuh dengan kehidupan yang begitu dinantikan oleh seluruh penduduk bumi. Berbagai persiapan menyambut tahun tersebut di mana-mana pada waktu itu selalu keluar kata-kata millenium. Bila ada yang membeli peralatan elektronik mulai dari televisi, radio, Vcd, kamera atau apapunlag warna yang selalu ditawarkan kepada pembeli adalah warna millenium. Sebenarnya warna millenium sendiri adalah warna perak. Di tahun tersebut kakakku meminta sejumlah uang kepada ibuku untuk membeli sebuah kamera dari temannya. Setelah kakakku mempunyai kamera maka aku sering melihat-lihat bentuk dan kehebatan kamera yaitu bisa menghasilkan gambar setelah dicuci dengan membawa kamera ke toko cuci cetak foto. Namun selang beberapa bulan kamera tersebut tidak dapat digunakan lagi alias rusak. Hal itu membuat marah ibuku karena ibuku menganggap kamera yang dibeli oleh kakakku dari temannya adalah sebuah kamera yang sebenarnya sudah rusak. Tujuan ibuku mengizinkan membeli kamera pada saat itu adalah agar pernikahan kakak ke dua ku dapat diabadikan dengan kamera sendiri selain telah diabadikan dengan menyewa jasa foto pengantin.

Tahun 2006 merupakan tahun aku mendapatkan sebuah hadiah kamera dari kakakku yang telah bekerja di Malaysia. Sudah 3 tahun lamanya dia di negeri Jiran tersebut hingga dia membeli sebuah kamera kodak biasa. Kakakku kembali ke Aceh hanya pulang cuti selama 2 minggu di awal tahun.  Karena dia telah memiliki kamera digital yang berasal dari hadian acara malam ulang tahun Perusahaannya akhirnya dia menyuruhku untuk memilih kamera yang hendak dia  berikan kepadaku. Duh, suatu keputusan yang susah dan akhirnya aku memilih kamera biasa karena kamera biasa yang kugunakan lebih tampak biasa saja. Sedangkan apabila ku menggunakan kamera digital pada saat itu maka orang menganggap itu barang yang mewah. Apalagi aku berasal dari keluarga miskin.

Kamera yang diberikan kepadaku akhirnya berguna dan kugunakan dengan benar-benar baik. Kamera tersebut kugunakan saat perpisahan sekolah. Dengan membeli fujifilm serta baterai akhirnya kamera tersebut bisa digunakan. Langsung saja saat perpisahan sekolah aku mengambil foto2 yang benar-benar berkesan apalagi isinya terbatas yaitu 36. Limited editionlah namanya….hehehehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s