Life

Menuju Pembaruan

Rasulullah SAW Bersabda : Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) & shaf pertama kemudian mereka tak bisa mendapatkannya kecuali dgn undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba untuk menghadirinya. Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya & subuh berjamaah dimasjid, pastilah mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari no. 69 & Muslim no. 437)

Itulah sebuah petikan sebuah hadist yang saya baca dari facebooknya Ustad Mansur. Ketika membaca hadist tersebut begitu saja terbayang ketika saya masih duduk di SMP sampai SMA saya sengat sering ke mesjid apalagi di bulan Ramadhan. Namun, kini berbeda yang saya rasakan

saya ke mesjid bila ada waktu luang, dan melaksankan salatpun secara sendirian di rumah maklum sekarang kami di rumah hanya bertiga dan kadang-kadang abang saya berada di rumah jadilah kami berempat di dalam rumah peninggalan almarhum ibunda saya.

Ketika mengutip kata-kata dari hadist tersebut di kalimat terakhirnya ” Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dgn mengerjakan shalat isya & subuh berjamaah dimasjid, pastilah mereka akan mendatanginya meskipun harus dgn merangkak”. Dan saya berfikir bagaimana dengan kehidupan saya sekarang. Salat sering telat, kadang-kadang ketiduran sehingga salat saya pun tidak saya tidak laksanakan. Apakah sekarang ini saya menjadi manusia yang berbeda yang tidak takut akan dosa? Sebuah pertanyaan yang menjebak saya sekarang ini. Saya ingin merubah kehiduan saya menjadi lebih baik lagi seperti masa SMP dan SMA saya. Namun, hal itu tidak mungkin lagi dalam pikiran saya karena sekarang ini ibu tidak ada lagi yang selalu memberikan nasihatnya apabila saya belum melaksanakan maka beliaupun menasihati saya agar lekas mengerjakan salat dahulu baru dilanjutkan dengan kegiatan yang lain. Tetapi melihat dan bila hanya berpangku dengan keadaan sekarang maka saya pun harus sadar dengan kesadaran dalam diri saya sendiri bahwa saya bisa seperti dulu agar nasehat yang ibu saya berikan tidak sia-sia.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa mengajarkan suatu amalan, maka dia mendapatkan pahala orang yang  mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun (HR. Ibnu Majah)

Mungkin sepenggal sebuah hadist itu bisa mengubah saya dan pribadi kehidupan saya agar saya bisa mengamalkan dan menuju pembaruan dalam kehidupan saya dan orang-orang di sekitar saya bahwa pembaruan dimulai dari diri sendiri dan di bantu oleh orang lain, serta mendapatkan Rahmat dari Allah Swt. Semoga dengan sebuah postingan kecil ini memberikan suatu pembaruan dalam pembacanya…Amiin.

Advertisements

4 thoughts on “Menuju Pembaruan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s